Fadhilah Puasa Syawal

Fadhilah Puasa Syawal

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.

 

 

Kerendahan Hati dan Kemudahan Rasulullah Saw

Kerendahan Hati dan Kemudahan Rasulullah Saw

Kasur yang Terlalu Empuk

Suatu hari, Bunda Hafshah menceritakan bahwa alas tempat tidur Rasullah adalah dua lapis buluh. Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan beliau, kami jadikan empat lapis. Keesokan harinya. Rasulullah memperingatkan kami agar perbuatan itu jangan sampai terulang lagi, “Biarkanlah tempat tidurku tetap dengan dua lapis saja. Akibat empuknya, kasur itu menghalangi shalatku semalam.”

debocil.comAyah Bunda, ditengah zaman yang serba canggih dan instan seperti sekarang ini, ada baiknya kita membekali anak-anak kita dengan bacaan dan pengetahuan yang dapat menjadi benteng bagi anak kita. Bekali pengetahuan anak-anak kita dengan kisah teladan sepanjang masa, yaitu Nabi Muhammad Saw.

cerita muhammad teladankuRasulullah SAW adalah manusia terhormat yang justru tidak ingin diperlakukan secara berbeda dari orang lain. Dalam sebuah perjalanan jarak jauh bersama para sahabat, Rasulullah SAW bangkit mencari kayu bakar. Ketika itu, mereka sedang beristirahat. Para sahabat berusaha mencegah dan ingin beliau tetap beristirahat. Namun, Rasulullah SAW tidak mau dicegah karena Allah SWT membenci orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada teman-temannya.

Pernah seorang Arab Badui berdiri di hadapan beliau dengan tubuh gemetar karena takut. Namun, beliau menenangkan orang itu dan mengatakan bahwa beliau hanyalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang memakan dendeng.

Pada saat lain, Rasulullah SAW mendatangi sekelompok sahabat sambil bertopang pada sebatang tongkat. Serentak para sahabat berdiri hendak memberi hormat. Namun, beliau bersabda, “Janganlah kalian berdiri seperti orang-orang asing itu berdiri ketika sebagian memberi hormat kepada sebagian yang lain.”

Beliau juga tidak menyukai tangannya dicium sebagai bentuk hormat karena itu juga menyerupai budaya orang asing. Itu pun beliau larang. Rasulullah SAW juga tidak suka segala macam gelar. Ketika menerima delegasi dari Bani Amir, mereka berkata kepada beliau, “Engkau Tuan kami.”

Maka jawab Rasulullah SAW, “Yang dipertuan adalah Allah.”

Mereka berkata pula, “Engkaulah orang yang paling mulia di antara kami dan yang terbesar kekuasaannya.”

Beliau menjawab, “Berbicaralah sesukamu, tapi jangan sekali-kali kamu mau dipermainkan setan.”

Abu Bakar bercerita, “Ada seorang laki-laki menyanjung laki-laki yang lain di sisi Rasulullah SAW. Maka, beliau bersabda, “Celaka engkau! Telah kau patahkan leher sahabatmu!”

Maksud Rasulullah SAW adalah jika kita memuji-muji seseorang, besar kemungkinan orang yang kita puji akan takjub kepada dirinya sendiri dan menjadi sombong. Itulah yang membinasakan dia seolah-olah seperti dipatahkan lehernya.

 

Dikutip dari buku Muhammad Teladanku jilid 12.

 

Menciptakan Generasi Qurani ala Ibu 10 Penghafal alQuran

Menciptakan Generasi Qurani ala Ibu 10 Penghafal alQuran

debocil.com – Memiliki anak yang hafal Al Quran merupakan kebanggaan bagi keluarga muslim saat ini. Pasalnya, proses menuju ke arah tersebut, dalam kondisi saat ini tidaklah mudah. Apalagi dengan kondisi lingkungan pergaulan, yang bisa menyeret anak-anak kita pada perilaku yang tidak baik.

keluarga muhammad teladankuNamun, hal tersebut bukanlah hal mustahil untuk dilakukan. Dengan niat dan tekad yang kuat, menjadikan anak sebagai penghafal Al Quran, bisa diwujudkan. Hal itulah yang dilakukan oleh Wirianingsih dan Mutaminul ‘Ula, pasangan yang meskipun sibuk, tetapi menyempatkan diri untuk mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Quran. Tidak hanya satu atau dua, melainkan 10 orang anak! Subhanallah.

Keduanya bisa disebut luar biasa, karena jarang ada di rumah karena kesibukannya. Wirianingsih menjabat sebagai Ketua Asosiasi Selamatkan Anak sedangkan Mutaminul ‘Ula adalah salah seorang pendakwah yang sering berada di luar rumah untuk memenuhi panggilan dakwah.

Berikut ini adalah kisah bagaimana Wirianingsih bersama suaminya mendidik anak-anak mereka menjadi penghafal Al Quran, yang disarikan dari Majalah Ummi, edisi 4 Agustus 2009. Kondisi yang tergambarkan pada kisah berikut, sesuai dengan kondisi pada saat diceritakan :

“Sebenarnya kegiatan menjadikan anak-anak hafal Al Quran, laksana sebuah proyek uji coba buat saya dan suami. Awalnya, kami memang sudah dekat dengan Al Quran, lalu kami melihat di Arab sana, menghafal Al Quran adalah hal yang biasa dilakukan masyarakat. Maka, saya dan suami berpikir, kalau orang-orang Arab bisa menghafal Al Quran, kenapa kita tidak, kan Allah menciptakan kapasitas otak manusia sebenarnya sama.

Alhamdulillah, proyek uji coba ini berhasil. Empat dari sepuluh anak saya sudah khatam Al Quran, yaitu yang sulung, anak kedua, ketiga dan keempat. Anak yang lainnya sudah hafal kurang dari 20 juz.

Buat saya dan suami, pembelajaran Al Quran adalah hal yang tidak bisa ditunda, sebab, Al Quran merupakan pegangan dan petunjuk hidup. Tidak seperti matematika atau seni. Al Quran juga bukan bahas Indonesai yang bisa diajarkan nanti-nanti. Kalau tidak dibiasakan sejak awal, tentu akan sulit.

Jadi, saya dan suami sudah mengajarkan Al Quran sedini mungkin kepada anak-anak, bahkan ketika mereka masih dalam kandungan. Hingga anak berumur 3 tahun, murottal Al Quran saya perdengarkan dalam segala aktivitas anak dan tidak dicampurbaur dengan bunyi apa pun, termasuk musik klasik.

Jadi, metode pertama kali adalah mengakrabkan mereka dengan ayat-ayat Allah dulu, membuat hal itu menjadi suatu kebiasaan hingga mereka pun jatuh cinta pada Al Quran. Setelah anak-anak usia tiga tahun, saya perkenalkan huruf hijaiyyah. Sehari minimal satu detik, saya ucapkan satu huruf hijaiyyah ke anak-anak, terus menerus saya ucapkan. Lalu semakin hari ditambah hingga membentuk kata, juga kalimat. Alhamdulillah, pada usia 4 tahun, anak sudah khatam jilid satu quroati dan di usia 6 tahun, sudah bisa baca Al Quran. Selanjutnya, target kami sebelum masuk kuliah, anak harus sudah bisa hafal Al Quran.

Kalau dibilang kami ketat dalam mendisiplinkan anak-anak, memang benar. Dulu, saya tidak mau menerima telepon sepenting apapun saat sedang menguji hafalan anak-anak. Waku yang kami tetapkan untuk setoran hafalan adalah Subuh dan Maghrib, minimal setengah halaman. Sekarang, anak yang besar sudah bisa membantu, jadi kami tinggal mengontrol saja. Anak-anak pun Alhamdulillah kooperatif alam mengikuti semua aturan yang kami buat. Justru sebenarnya tidak terlalu sulit membentuk anak-anak, karena otak anak-anak itu seperti spons, mudah menyerap dan mengikuti.

Bohong jika kami tidak menemui kendala, baik kesehatan, ekonomi dan lingkungan adalah contohnya. Tapi, semua itu jangan dijadikan hambatan. Yang terberat memang mengontrol lingkungan, apalagi seperti sekarang ini. Saya pun tidak percaya kalau anak-anak tidak terkena imbasnya. Tapi, lagi-lagi dengan komunikasi dan keterbukaan, kami bisa sama-sama mengevaluasi dan mencari solusinya.

Ayah bunda juga bisa menggunakan hafiz doll sebagai sarana pengakraban al quran di telinga anak-anak. Bentuknya yang lucu membuat anak-anak suka bermain dengannya sambil mendengarkan ayat-ayat quran di dalamnya

Menstimulasi Anak Mandiri Melalui Kisah Rasulullah

Menstimulasi Anak Mandiri Melalui Kisah Rasulullah

Assalamu’alaikum Ayah Bunda yang Shalih Shalihah. Semoga kita semua dalam sehat wal afiat dan selalu bersemangat dalam berkarya.

Bulan Agustus biasanya nuansanya semangat kemerdekaan. Bicara tentang kemerdekaan, sangat erat dengan kemandirian. Nah, setiap ayah bunda pasti menginginkan ananda tercintanya mandiri sejak usia dini. Bagaimana caranya? Tentu kembali ke sirah/kisah Rasulullah.

 

Bingung memilih figur dan salah kaprah memberikan contoh kemandirian

Tidak jarang ayah bunda keliru dan salah kaprah memilih contoh atau figur yang menarik anak belajar mandiri. Sering kali malah membandingkan putra-putrinya dengan adik atau kakaknya, saudara dari kerabatnya, temannya, yang malah membuat anak tidak nyaman. Bahkan kalaupun memilih figur atau contoh baik, pada figur fiktif dari dongeng atau sosok yang belum tentu kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

 

Memilih Figur Tepat bagi Kemandirian Anak

Bagi seorang muslim masa kini, rujukan dan teladan utama tentu tetap Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Baik dewasa, remaja, bahkan sejak kanak-kanak. Kewajiban Ayah Bunda sebagai orang tua menanamkan kemandirian sejak kecil kepada ananda tercinta. Sehingga kelak, putra-putri kita tumbuh dewasa dapat mandiri tidak menjadi beban orang lain, termasuk kita sebagai orang tua.

 

Kemandirian dari kisah dan keteladanan Rasulullah

Selain dari menyampaikan kisah keteladanan Rasulullah pribadi yang mandiri secara verbal. Kita dapat dengan lebih mudah menyampaikannya disertai dengan buku. Salah satu buku yang sangat baik untuk ananda balita adalah Rasulullah sebagai Anak Mandiri. Sebuah buku yang menarik untuk menginspirasi anak menjadi mandiri. Buku yang merupakan bagian dari Paket Rasulullah Sahabatku dapat membantu ayah bunda menyampaikan kisah dan keteladanan Rasulullah agar putra-putri menjadi mandiri.

 

Nilai Lebih dari Membangun Kemandirian Melalui Keteladanan Rasulullah

Segala sesuatu kebaikan jika diniatkan ikhlas tentu bernilai ibadah. Hal ini berlaku bagi dewasa yang telah akil baligh atau anak-anak. Ayah bunda dapat menyampaikan ketika melatih ananda tercinta mandiri. Bahwa ketika mencontoh kemandirian Rasulullah, maka jika ikhlas mengharap ridha Allah dan meneladani Rasulullah, maka nilai pahalanya lebih besar, tentu hadiahnya adalah syurga.

 

Sering Menyebutkan Contoh  Kemandirian Rasulullah

Anak-anak perlu contoh nyata  kemandirian untuk diikuti. Contoh kemandirian Rasulullah bukan hanya pada saat kanak-kanak, tapi sampai Rasulullah dewasa dan setelah diangkat menjadi  Nabi terakhir. Kita bisa menceritakan Rasulullah menggembala kambing, membawa barang belanjaannya sendiri, memperbaiki/menjahit pakaiannya sendiri, dan lainnya. Sehingga kisah tersebut bisa menjadi teladan  yang diingat ananda hingga dewasa. Hal tersebut akan sangat mudah, ketika ayah bunda lebih awal mempelajarinya sebelum menyampaikan kepada putra – putri tercinta.

 

Kisah Kemandirian dalam Buku Rasulullah Sahabatku

Contoh kemandirian Rasulullah, bukan hanya pada buku Rasulullah sebagai Anak Mandiri, namun pada judul lainnya dalam paket Buku Rasulullah Sahabatku yaitu: Rasulullah sebagai Anak Saleh dan Cerdas, dan Rasulullah sebagai Ayah.

 

Semoga dari kisah kemandirian Rasulullah tersebut, bisa bermanfaat bukan hanya untuk Ananda tercinta, tapi untuk ayah bunda bersama menjadi keluarga pecinta Rasulullah. Sehingga amal shalih kita bisa menjadi investasi untuk berkumpul kembali di syurga-Nya, aamiin.